Persaingan Visual Novel dengan Manga, Anime, Novel Ringan, atau Bahkan Mobage

Published by admin on

Kilas Balik Mengenai Visual Novel

Pertama-tama, mari kita ulas kembali apa itu visual novel. Dalam artikel sebelumnya, telah dijelaskan dengan panjang lebar seluk beluk visual novel dimulai dari devinisi, sejarah, hingga jenis-jenisnya (Baca: Mengenal Visual Novel Bagian 1). Bila dirangkumkan secara menyeluruh, “Visual novel merupakan game yang berbasis grafik, suara, dan tulisan. Yang terpenting dalam suatu visual novel adalah adanya format pilihan yang memandu kita ke suatu akhir cerita. Satu pilihan yang kita pilih akan menentukan alur cerita dari visual novel tersebut” (Sakagami/2015).

Di artikel Bagian 2 juga telah dijelaskan cukup detail mengenai jenis-jenis visual novel. Seperti yang telah dijelaskan di artikel tersebut, awal mula dari visual novel adalah adventure game. Lebih detailnya lagi, adventure game yang pertama kali muncul adalah game buatan Amerika yang berjudul Colossal Cave Adventure. Game tersebut hanya menampilkan tulisan dan kita disuruh untuk memasukkan kata kunci agar cerita dapat berlanjut. Tentu saja, kata kunci yang dipakai menggunakan bahasa Inggris dan mudah untuk ditebak. Setelah itu, muncul sistem baru di mana grafik dimasukkan, lalu terus berkembang dengan munculnya sistem pilihan yang sampai sekarang pun menjadi format dasar visual novel.

Kalah Saing dengan Anime, Manga, dan Novel Ringan?

Seperti yang telah kita ketahui, tingkat kepopuleran visual novel jauh lebih rendah daripada anime, manga ataupun novel ringan. Bila berbicara mengenai data, berikut merupakan grafik penjualan anime dari tahun ke tahun.

whatever-happened-to-visual-novel-anime-jafax-2018-44-638

Grafik penjualan anime dari adaptasi berbagai media

Dari grafik tersebut, dapat dilihat bahwa penjualan anime yang diadaptasi dari visual novel tidak begitu meningkat semenjak tahun 2006. Tentu saja, visual novel yang diadaptasi menjadi anime bisa meningkatkan tingkat kepopuleran suatu visual novel. Namun, pada dasarnya, seorang game creator (dalam hal ini, visual novel) selalu berusaha membuat karya yang “tidak menarik bila diadaptasikan menjadi movie atau anime” (Ishii). Lho? Kenapa jadi bertentangan seperti itu? Oke, kita beralih dulu ke halaman berikutnya.

Kita kembali lagi ke bahasan awal mengenai apa itu adventure game/visual novel. Unsur yang paling penting dalam suatu visual novel itu ada pada “pilihan” yang menentukan alur cerita. Dan untuk “menghidupkannya”, satu-satunya cara adalah dengan menjadikannya sebuah game. Berbeda dengan anime, novel ringan atau manga yang alur ceritanya hanya satu, visual novel dapat menciptakan alur cerita yang beragam sesuai kemauan kita. Di situlah ciri khas yang paling menonjol dari visual novel dibandingkan dengan tiga media tersebut.

Kita ambil saja contoh yang paling mudah, visual novel Mashiro Iro Symphony yang diadaptasi menjadi anime. Dalam adaptasi anime tersebut, dari empat heroine yang ada, rute sang senpai, Amaha Miu yang menjadi cerita utama.

Mashiro Iro Symphony

Apakah adaptasi ini bisa disebut sebagai ending yang bagus? Bagi para penggemar Amaha Miu, mungkin adaptasi ini merupakan adaptasi yang terbaik, tetapi bagaimana dengan penggemar heroine lain? Lalu bagaimana caranya agar suatu adaptasi visual novel bisa dianggap “sukses”? Kita ambil contoh lain, Danganronpa. Adaptasi anime Danganronpa bisa dibilang cukup sukses. Kenapa? Itu karena Danganronpa hanya memiliki satu alur cerita. Lalu bagaimana dengan Steins Gate? Untuk kasus Steins Gate, alur ceritanya “bercabang”, tetapi sengaja dibuat satu alur dengan urutan yang sangat pas.

Suatu visual novel yang memiliki alur cerita bercabang itu justru sangat pas bila dibuat dalam format game (Ishii). Adaptasi anime yang dibuat menjadi satu alur cerita itu mau bagaimana pun pasti terdapat bagian yang “memaksa” (Nakazawa). Oleh karena itu, tidak bisa sembarangan dan sangat sulit untuk menentukan urutan alur cerita saat membuat adaptasi anime dari visual novel. Namun, di sinilah titik kesulitan meningkatkan kepopuleran visual novel. Ishii juga menjelaskan, bila hanya menggunakan media game sebagai target bisnis, para creator akan “susah cari makan”. Para creator terus membuat visual novel yang tidak bisa diungkapkan melalui media lain selain game, tetapi hanya itu saja tidak akan membuat visual novel bertahan hidup. Untuk masalah ini, memang sangat susah untuk mencari jalan keluarnya.

Social Game (Mobage) Salah Satu Faktor Turunnya Penjualan Visual Novel?

Apakah kalian menyadari bahwa sebenarnya social game (mobage) yang saat ini tengah marak di dunia smartphone juga termasuk ke dalam adventure game? Kita ambil contoh yang sangat umum, mobage Idolmaster Cinderella Girls Starlight Stage. Di game tersebut, kita perlu memainkan lagu untuk meningkatkan status, fans, dan hubungan idol agar dapat mengetahui kisah tentang idol tersebut. Dari sudut pandang yang berbeda, ini juga bisa dikategorikan sebagai adventure game/visual novel.「デレマス好感度」の画像検索結果「デレマス コミュ」の画像検索結果

Jadi, media smartphone ini sangat cocok bila terdapat unsur adventure game. Memang, bisa dibilang mobage menjadi salah satu faktor menurunnya penjualan visual novel, tetapi apabila visual novel dipaksakan untuk memasuki dunia mobage, justru para konsumen kurang mendukung. Selain itu, dalam hal bisnis pun tidak akan bisa berjalan dengan sukses. Itu dikarenakan visual novel dan mobage sangat kontradiktif. Dulu sempat ada adventure game/visual novel yang dibuat dalam format mobage dengan sistem membuka rute menggunakan uang, tetapi tidak berjalan dengan baik. Meskipun begitu, para creator adventure game/visual novel ini masih memiliki kesempatan untuk menyalurkan pengalaman mereka di pasar mobage.

Penjelasan-penjelasan di atas merupakan rangkuman hasil percakapan antara Uchikosi Koujirou, Ishii Jirou, Matsuhara Tatsuya, Shimokura Baio, Nakazawa Takumi, dan Hayashi Naotaka. Bisa dibilang, mereka merupakan perkumpulan “sesepuh” yang bergelut di dunia produksi visual novel. Seluruh hasil percakapan mereka mengenai sistem, masa depan, perkembangan, dan lain-lain mengenai visual novel ini tercatat dengan detail di situs 4games dan kami rangkum dalam artikel ini.

Jadi kesimpulannya, hingga saat ini masih belum bisa dipastikan bagaimana cara untuk meningkatkan kepopuleran visual novel. Meskipun terasa janggal dengan pernyataan bahwa mobage membuat produksi visual novel menurun, tetapi dari sudut pandang berbeda, mobage juga bisa dikategorikan dalam adventure game. Namun, meskipun kesulitan untuk meningkatkan kepopuleran, kita sebagai konsumen jangan lupa untuk selalu mendukung para creator. Dukungan dari para konsumen merupakan unsur yang sangat penting dalam pemasaran game, khususnya visual novel.

Referensi

Categories: ArtikelFokus

1 Comment

mono tv · 06/07/2018 at 6:36 pm

Kalau menurut ane pasar VN bisa didongkrak penjualannya apabila sudah tersedia platform seperti Steam atau Melonbooks di pasar Mobile, aksebilitas kuncinya. Soalnya VN ini gameplay berpuluh-puluh jam hanya dihabiskan untuk membaca.

Komentar di sini

%d bloggers like this: