Laplacian: Buat Mobage Nihil, Terjun ke Bishoujo Game, Merugi.

Published by admin on

Brand “Laplacian” meski baru, namun mempunyai berbagai karya yang cukup berkesan bagi warganet, pemain Visual Novel hingga penggemarnya. Namun jalan yang ditempuh Laplacian sebelum masuk bisnis ini tidaklah mudah. Inilah cerita Ono Wasabi tentang Laplacian dan sejarahnya.

————————————————————————————————————————–

Wawancara yang terdapat dalam artikel ini merupakan hasil terjemahan dari Website Cicoly (cicoly.jp). Semua isi dari artikel wawancara ini sepenuhnya milik Cicoly. HERO Soft tidak mengambil keuntungan apapun dari artikel ini. Semua yang berkaitan dengan hak cipta akan ditanggung oleh HERO Soft.

————————————————————————————————————————–

— Saya kaget ketika berkunjung ke kantor Laplacian, semuanya stafnya masih muda, ya

ONO WASABI: Saya sendiri sekarang 29 tahun, tahun ini jadi 30. Illustrator kami, Shimofuri masih 25 tahun. Dan yang lain kira-kira 20-an juga. Jadi kalau dirata-rata semuanya masih 27 tahun. Tapi ya tambah lama ya tambah tua.

— Kemudian, menurut anda, adakah “Perusahaan Bishoujo Game” yang paling favorit?

ONO WASABI:    Setiap prang pasti beda-beda, tapi kalau saya, karya August Soft adalah yang pertama kali saya mainkan. Dan yang paling berkesan adalah “Tomoyo After” dari Key.

— Judulnya masih terbilang baru, ya. Dan sekarang saya akan bertanya mengenai Laplacian itu sendiri. Bagaimana “brand” Laplacian terbentuk?

ONO WASABI:    Saat masih kuliah, dalam seminggu setidaknya saya 6 kali pergi ke Maid Café. Saya senang sekali melihat para pelanggan yang dengan bahagianya berbicara dengan para Maid di sana. Dan saya kepikiran, dunia Otaku asyik juga, ya. Nah setelah itu, saya mendirikan perusahaan yang menjadi induk dari brandnya.

Enaknya mahasiswa itu bisa keluar-masuk universitas secara bebas. Tapi kalau sudah terjun ke masyarakat, maka tidak bisa segampang itu.

Akhirnya saya ‘menyelinap’ ke berbagai universitas di daerah Kantou, untuk mengumpulkan orang yang ingin jadi Creator. Awalnnya saya berfokus mencari illustrator, dan disitulah saya bertemu Shimofuri.

Jadi, sembari bekerja, saya mencari sumber daya manusia yang dibutuhkan. Dan ketika sudah lengkap, bersamaan dengan bergabungnya Shimofuri, terbentuklah brand ini.

— Oh karena itu stafnya masih muda-muda.

ONO WASABI:    Saya mendirikan perusahaan bersama teman satu angkatan saat SMA. Sedangkan Shimofuri adalah mahasiswa Creator yang saya temukan. Dan Pellet yang baru saja masuk, adalah teman satu angkatan Shimofuri saat SMA.

–Terus, ketika stafnya sudah terkumpul, apa yang menjadi pemicu untuk membuat Bishoujo Game?

ONO WASABI: Awalnya karena rugi besar saat membuat Soshage (Mobage). Sebenarnya, awalnya kami membuat Mobage 18+. Dan Full Scratch (Membuat dari awal) lagi! Kami membeli server sendiri, dan membuat segala sistemnya sendiri. Dan penjualnnya, luar biasa, Nihil!

— Sudah dirilis?

ONO WASABI: Tentu saja. Tapi karena ini adalah Mobage untuk Browser dan dibuat oleh perusahaan yang namanya saja tidak dikenal, apalagi semua sistemnya dibuat sendiri, saking mencurigakannya, tidak ada yang mau mengeluarkan uang.

Setidaknya, kami berharap ada sedikit saja, tapi tetap saja nol yen!

— Hebat sekali membuat dan mengembangkan Mobage sendiri. Full Swing, kan?

ONO WASABI:  Full Swing langsung Strike Out (Menyerah). (Haha ….)

— Kira-kira apa yang membuat langsung strike out?

ONO WASABI: Mungkin karena Mobage tidak cocok bagi saya. Kemudan saya kepikiran, “terus apa yang cocok?”, dan akhirnya memutuskan untuk membuat Bishoujo Game.

Ada tiga alasannya. Pertama karena berbentuk package (memilki fisik dan harga yang jelas). Dengan adanya Master Up (Sebuah keadaan bahwa sebuah game siap diproduksi) maka, kami merasa bisa berusaha untuk menuju kearah itu (master up). Tapi kalau Mobage harus setiap bulan melakukan Update, jadi repot.

Dan karena (Bishoujo Game) memiliki harga yang jelas, meskipun rugi, setidaknya ada pendapatan yang masuk, dan tidak takut akan hasil nihil.
 
Alasan kedua, karena sistem game yang jelas, sehingga saya bisa fokus pada pembuatan cerita. Perusahaan kami pada dasarnya bisa membuat lagu, skenario, dan gambar itu sendiri, tapi untuk sistem game, perlu pertimbangan lain. Selain itu kami juga tidak punya orang yang ahli di bidangnya (sistem game). Tapi yang lebih penting, saya lebih suka untuk membuat sebuah cerita, dan karena faktor itulah Bishoujo game jadi pilihan terbaik.

Dan yang ketiga adalah budaya (masyarakat Jepang) untuk membeli brand yang sangat kuat. Saat Laplacian merilis karya perdana, nama saya belum dikenal siapa-siapa. Dan Shimofuri pun juga tidak terlalu aktif dalam dunia Doujinshi.

Jadi kami harus berusaha agar nama Laplacian dikenal dan diikuti oleh para pengguna. Kalau tidak, tentu tidak akan bertahan lama.

Dengan tiga alasan tadi, saya merasa Bishoujo Game sangat tepat untuk Laplacian.

— Untuk situasi sekarang, bisnis Bishoujo Game untuk sendiri cukup padat dan sulit. Apa tidak merasa khawatir?

Saya lahir di akhir zaman Showa, dan itu tepat setelah ekonomi Bubble. Dan sejak saat itu  keadaan ekonomi saya rasa terus menurun. Karena itu, saya rasa setiap tahun ekonomi selalu memburuk. Saat mendirikan perusahaan ini 7 tahun lalu, juga ada berbagai kejadian seperti Lehman Shock atau Gempa Jepang tahun 2011

Apalagi, saat itu saya juga masih kuliah, setiap bulan hanya terpikirkan untuk menabung. Uang untuk makan saja susah. Ditambah proyek Mobage yang gagal. Dibandingkan dengan hasil nihil saat itu, lebih baik rugi seperti sekarang ini. Masih ada hasilnya.

c886260package

Kimi to Yume Mishi karya Laplacian yang dapat “rapor merah”

— Kemudian apa motivasinya untuk kembali bangkit dari keterpurukan tadi?

ONO WASABI: Kalau itu, melihat dari wajah kami semua pasti kelihatan.

Karena tidak mungkin membuat game dengan rating A di awal-awal. Makanya kami membuat kesan terbuka. Seperti memasang foto rektor di halaman promosi suatu universitas.

— Benar juga. Di situs resmi Laplacian ada kolom khusus dengan jumlah tulisan yang luar biasa banyak.

ONO WASABI: Kira-kira seperti itu. Karena sebagian besar itu hobi.

— Dengan memunculkan nama illustrator, memang ada pengaruhnya?

ONO WASABI: Shimofuri itu umurnya 25 tahun dan masih perjaka. Dan mengerjainya di depan orang banyak itu, seperti kebiasaan di perusahaan kami. Karena masih perjaka, “terus untuk malam pertamanya harus bagaimana?”. Gara-gara itu pembicaraan jadi semakin menarik.

Saya sendiri punya istri dan anak. Tapi masih saja sering dibilang mirip perjaka.

— Setelah membuat karya yang membahas perjaka, menurut anda bagaimana keadaannya (Pasar Bishoujo Game) sekarang?

ONO WASABI: Sangat berterima kasih sekali. Mungkin di Jepang sekarang, berada di posisi satu atau dua. Kami sangat bersyukur.

Kami juga menerima komentar kalau pengguna (pembeli) ternyata juga masih perjaka. Seakan kami punya kewajiban untuk membuat karya agar para perjaka nyaman untuk bermain (bishoujo) game.

— Selama ini, apakah ada karya yang jadi Viral karena membahas perjaka?

ONO WASABI: “Newton to Ringo no Ki” Itu yang punya kesan paling kuat. Gara-gara tokoh utamanya perjaka, Newton jadi tidak bisa menemukan teori gravitasi. Dan saat versi Trialnya keluar, langsung jadi pembicaraan. Karena kesannya beda dengan karya pertama kami.

alice_wall

— Semua tokoh yang muncul di karya Laplacian memiliki karakter yang kuat. Dari sekian banyak, apa ada yang jadi favorit?

ONO WASABI: Ada satu karakter namanya Professor Selaput Dara. Jadi wajahnya itu  terdiri dari vagina lengkap dengan selaput daranya. Dan diluar dugaan, karakter itu cukup membuat pengguna tertawa. Meski sekedar karakter yang muncul di rute bonus, tapi cukup terkenal juga.

— TIdak saya sangka yang dibahas ternyata bukan Heroine (Haha ….)

ONO WASABI: Benar juga. (Haha …..)

スクリーンショット (364)

Profesor Selaput Dara

— Selain masalah perjaka, saya perhatikan, juga ada candaan lain yang cukup viral di warganet.

 

ONO WASABI: Kalau kepikiran, pasti langung ditulis kok. Meski kata orang lain karya kami banyak candaan kotornya, tapi saya sendiri tidak merasa begitu. Hanya, kalau benar-benar ingin berncanda, pasti cari yang benar-benar bagus. Karena kalau sembarangan, nanti takut garing.

— Untuk Professor Selaput Dara, candaannya bagus kok.

ONO WASABI:  Kalau itu, enggak tahu candaan apa bukan (Haha ….)

— Kemudian, untuk masalah promosi. Apakah ada event yang Laplacian siapkan, tapi tidak banyak orang yang tahu?

ONO WASABI: Untuk karya perdana, kami membuat (engine) di Unity agar dapat berjalan di MAC OS. Dan untuk promosi, kami mengadakan event berhadiah MacBook Air disertai semua tanda tangan dari pengisi suara yang ikut dalam karya perdana. Tapi, tidak ada yang sadar.

Saking tidak terkenalnya, hanya ada 50 orang yang ikut. Syukur deh (Haha …)

Kemudian, di HTML Source, kami juga memasukkan sedikit bocoran skenarionya. Untuk karya perdana, kami masukkan di CSS tapi tetap saja enggak ada yang sadar.

Mungkin karena terlalu rumit, kami akhirnya menulisnya di awal (Top) pada Source Code situsnya. Untuk karya terbaru “Mirai Radio to Jinkoubato” kami sudah menulisnya sejak situs Teaser

— Luar biasa! Kemudian apakah ada adegan H-Scene favorit ?

ONO WASABI: Setiap Heroine, untuk malam pertama wajib di kamar dengan posisi (senggama) misionaris (laki-laki di atas, perempuan di bawah.)

Kemudian harus ada “main kaki”. Saya sendiri pernah ikut untuk mengerjakan scenario dari Purple Software (Aoitori), dan di situ saya juga memasukkan adegan “main kaki”. Saya pasti berusaha untuk memasukkan adegan “main kaki” di setiap karya yang saya kerjakan.

Kalau H-Scene biasa, Heroine pasti setengahnya hanya mendesah (mengerang). Tapi kalau “main kaki” Heroine bisa ngomong apapun semaunya. Saya senang bisa membuat tokoh utama hanya mendesah dan terdiam. Tapi saya sendiri tidak ada fetish semacam itu.

19a4bbbf-7db9-419e-abcd-ac0583e51be8

— Untuk posisi misionaris alasannya juga sama?

ONO WASABI: Saya punya anak perempuan. Dan saya ingin memberitahu pada anak saya, “kalau seks itu begini lo”. Dan suatu saat nanti, dia pasti tahu kalau ayahnya membuat game 18+. Dan mungkin saja, dia juga memainkannya. “Oh ternyata begini seks yang dibuat ayah”. begitu.

Tapi, ya sebagai ayah, tetap harus mengingatkan untuk selalu memakai kondom.

— Apa tidak khawatir dibenci anaknya?

ONO WASABI: Oh, enggak apa-apa.

Nanti, gara-gara bicara seperti ini, mungkin dia tidak mau lagi menurut pada ayahnya (haha ….).

Oh, ya. Untuk H-Scene, apa semuanya Anda yang menentukan?

ONO WASABI: Bisa dibilang begitu. Tapi juga ada bantuan dari pihak luar kok.

— Bagaimana dengan pendapat staf lainnya?

ONO WASABI:  Untuk pendapat pribadi masing-masing staf saya tidak tahu.
Tapi sebagai Laplacian, saya berusaha maksimal untuk membuat H-Scene yang sebagus mungkin. Karena itu, ada ide untuk memasukkan ide dari illustrator. Untuk Pellete, dibiarkan saja pasti bisa membuat gambar yang luar biasa erotis. Jadi saya bisa langsung pakai idenya. Apalagi di kartu namanya, tertulis “Hentai”

— Dan yang terakhir. Untuk karya selanjutnya, adakah Genre yang ingin dicoba?

ONO WASABI: Mungkin jawabannya akan sedikit meleset. Saat ini “Newton to Ringo no Ki” versi bahasa Inggris sedang dikembangkan. Selain itu, kami juga sedang mempersiapkan serial Gadis Kemonomimi (bertelinga). Tapi untuk yang ini, diawali dari versi bahasa Inggris. Karena, selain pasar Jepang, kami juga ingin merambah pasar luar negeri.

Kalau untuk genre, mungkin seperti yang ada di karya ketiga kami. Karena Mirai Radio to Jinkoubato cukup bernuansa Science Fiction, jadi untuk sementara ini, kami ingin fokus membuat karya yang cukup futuristik, seperti karya ketiga kami.

Karya ketiga Laplacian “Mirai Radio to Jinkoubato

Artikel Spesial | HERO Soft

——————————————————————————————-

Sumber:
Artikel: https://cicoly.jp/column/xB8PI
Penulis: Kaicho
Alih Bahasa: Robet Fujita


0 Comments

Komentar di sini

%d bloggers like this: