Kenapa Harus Visual Novel?

Published by Robet Fujita on

Di tengah maraknya tontonan kartun Jepang yang semakin menarik, ditambah bertambahnya pemain mobage, dan juga waktu dan uang yang mereka keluarkan untuk mendapatkan rare items melalui gacha, Visual Novel ternyata masih memiliki penggemar yang tidak bosan-bosannya berbagi cerita tentang Visual Novel yang sedang mainkan sekarang. Baik dari cerita, event-event menarik, H-Scene, hingga akhir cerita yang didapatkan.

Dengan senangnya, dan begitu menggebu-gebu mereka untuk membagikan ceritanya. Bahkan, ada yang tidak ragu menunjukkan bahwa laptop gaming sekalipun ternyata mampu memberikan pengalaman Visual Novel yang berbeda. Melihat banyaknya teman-teman yang bermain Visual Novel, di tengah asyiknya mobage, kartun Jepang, bahkan komik, kenapa masih ada yang sebegitu asyiknya memainkan Visual Novel?

© Kami-sama no Youna Kimi e/CUBE

Berikut opini penulis, mengapa Visual Novel masih begitu seksi untuk dinikmati.

Lebih menantang

Untuk menyatukan pemahaman, mari ketahui bahwa Visual Novel adalah gim. Meskipun memiliki embel-embel ‘Novel’, Visual Novel bukanlah media yang sama dengan novel ringan, maupun web novel sekalipun. Dua media ini berbeda, meski sama-sama menonjolkan cerita di dalamnya.

Karena sebuah gim, cara menikmatinya pun berbeda. Visual Novel secara umum memiliki sistem yang dibuat sehingga pemain tidak hanya ‘membaca’ cerita namun dapat ikut terjun dalam alur cerita itu sendiri. Bantuan karakter BGM, gambar latar, efek suara, bahkan efek animasi membantu pemainnya untuk terjun lebih dalam menikmati cerita.

Namun, kalau hanya cerita Visual Novel hanya akan menjadi novel biasa. Karena itu, cerita dibuat sedemikian rupa sehingga pemain diwajibkan bisa memilih secara bijak untuk mendapatkan akhir cerita bahagia yang diharapkan. Kalau salah saja, mungkin teman-teman bisa menyesal. Memilih yang tepat juga perlu untuk mendapatkan berbagai event penting, dan menarik yang terkadang terlewat dari cerita utama.

© Kara no Shoujo 2/Innocent Grey

Tidak hanya itu, layaknya gim, Visual Novel sering mewajibkan pemain untuk pandai-pandai menyimpan ‘titik aman’ sehingga bisa mendapatkan akhir cerita yang ‘asli’, atau yang lebih dikenal TRUE END, atau agar bisa selamat dari kesialan, BAD END. Seandainya Visual Novel dimainkan tanpa Walkthrough, jujur saja Visual Novel sangatlah menantang.

Bisa pilih Heroine favorit

Memilih yang bijak untuk mendapatkan karaker favorit menjadi keasyikan sendiri dalam memainkan Visual Novel. Setiap Visual Novel yang bukan Heroine tunggal, pasti memiliki Heroine cakep yang sesuai tipe. Nah, untuk mendapatkan Heroine tersebut pemain harus bijak dalam memilih supaya enggak nyasar.

Namun, tidak semua Visual Novel memiliki sistem yang sama. Karena Harem Kingdom, karya HOOKSOFT memaksa teman-teman untuk tidak memilih, karena semua Heroine adalah istri teman-teman.

© Harem Kingdom/HOOKSOFT

Pilihannya banyak

Tidak kalah dengan komik, jumlah VIsual Novel yang bisa dimainkan sangatlah banyak. Meski tidak selalu sama, setidaknya terdapat sekitar 10 hingga 20 judul termasuk Nukige yang dirilis bersamaan di dalam satu bulan. Meski satu pengembang sebagian merilis satu judul setiap tahunnya, namun jumlah VIsual Novel yang rilis setiap bulan belum pernah kurang dari sepuluh judul.

Dengan pilihan sebanyak ini, teman-teman tidak perlu khawatir kehabisan mainan, karena rilisan tahun lalu pun dapat dimainkan kalau seandainya antrian menumpuk.

Ada H-Scene

Tentu saja. 90% dari judul-judul VIsual Novel yang rilis setiap bulannya pasti memiliki H-CG yang siap dinikmati oleh para pemainnya. Bahkan, seakan-akan H-Scene adalah hal yang paling dicari orang-orang ketika mendengar kata-kata ‘Visual Novel’. Padahal ini adalah miskonsepsi. Mengenai Miskonsepsi ini teman-teman dapat membaca artikel Opini melawanan Konsepsi Gim Dewasa Populer Jepang, di laman Kaori Nusantara.

Namun, menurut penulis H-Scene sekarang menjadi kunci utama dari sebuah judul, bahkan di Jepang sekalipun. Di mana pemain yang melakukan pre-order biasanya akan mendapat tapestry dengan gambar yang sungguh erotis. Tidak ada yang salah, tapi teman-teman tidak boleh salah memahami. Visual Novel ‘bukan sepenuhnya’ gim porno.

© LOST:SMILE/LIFE0

Kelemahannya cuma satu

Dari beberapa sisi menarik Visual Novel tadi, hanya satu kelemahnnya, yaitu bahasa. Visual Novel merupakan gim dengan jumlah teks yang dapat melebihi puluhan lembar novel sekalipun. Tidak percaya? Teman-teman dapat membaca artikel “Seberapa Panjang sih Skenario Visual Novel?”, di laman HERO Soft.

Mungkin ada yang bilang repot karena harus main di laptop, enak di ponsel, harus baca cerita, dan lain sebagainya. Namun, titik terbesar adalah bahasa. Bahasa Jepang yang menjadi dinding utama kenapa Visual Novel menjadi tidak terjangkau. Meskipun sejak tahun 2019 banyak judul populer yang dirilis di Steam, banyak juga judul yang ‘tidak mampu’ untuk dialihbahasakan karena bahasa Jepang itu sendiri. Tidak jarang terdapat Visual Novel yang gagal di bawa ke luar Jepang, karena makna cerita dari bahasa Jepang asli tidak tersampaikan dengan benar.

Namun, tenang. Mulai ada pengembang yang merilis karya mereka langsung dalam dua bahasa. Inggris, dan Jepang sepeerti Visual Novel Marco and The Galaxy Dragon

Bagi teman-teman Visual Novel pasti memiliki daya tarik sendiri. Setiap orang memiliki alasan berbeda untuk bisa menyukai, dan menikmati salah satu gim eksklusif Jepang ini. Entah itu menyukai ilustrasinya, pengisi suaranya, illustrator, maupun gaya rambutnya, kegemaran teman-teman memainkan Visual Novel tidak kalah keren dengan penggemar media lain. Jangan malu-malu bertanya, berdiskusi, dan berbagi cerita, tapi jangan bikin malu sesama penggemar Visual Novel, ya.

Categories: Fokus

Robet Fujita

Penggemar musik jejepangan metal, hard rock, hingga jadul. Suka menulis, dan menyibukkan diri sendiri.

0 Comments

Komentar di sini

%d bloggers like this: