Semua Berhak Hidup, Semua Berhak Bahagia – Ulasan Mirai Radio to Jinkobato

Published by Robet Fujita on

Visual Novel ini merupakan karya ketiga Laplacian setelah Newton to Ringo no Ki. Tentu, setelah viralnya luar biasa, apalagi setelah Sol Press waktu itu memboyong serial tersebut ke bahasa Inggris. Dengan harapan yang tinggi, apakah Mirai Radio dan Jinkobato bisa memenuhi harapan itu?

Manusia tanpa koneksi

Di masa depan, karena suatu kesalahan penggunaan teknologi manusia kehilangan koneksi dengan dunia luar. Semua karena sinyal sudah tidak bisa digunakan lagi. Di masa depan pun, komunikasi manusia ternyata bisa sekali lagi kembali ke zaman sebelum telepon mengubah sejarah.

Zaman gini dengar radio?

Disini Yamanashi Sora, seorang penyintas kecelakaan pesawat yang jatuh akibat hilangnya sinyal tersebut, berusaha untuk kembali merebut koneksi yang hilang dari pencurinya, yaitu Jinkobanto, ‘Burung Dara Buatan/Artificial Pigeons’.

Jinkobato. Burung Dara Buatan

Masa depan yang penuh misteri

Berbagai hal dicoba, akhirnya Sora berhasil ‘menciptakan’ Radio yang mampu memancarkan sinyal, dan menyiarkan acara ke udara tanpa terganggu oleh Jinkobato si Pemakan SInyal. Perlahan, harapan Sora mulai mendekat.

Namun, Radio yang dia buat ternyata malah membawa mimpi buruk. Tengah malam, Sora mendengar bahwa beberapa minggu ke depan diirinya akan tewas di tempat yang sama, ketika dia menjadi penyintas kecelakaan pesawat.

Dari siapa? Kenapa? Apa yang terjadi? Semuanya akan jadi perjalanan yang panjang, tapi juga singkat bagi Sora.

Perjalanan untuk mendapatkan kembali ikatan manusia dengan langit.

Semua rute sangat memuaskan

Bisa jadi spoiler, jadi harap hati-hati.

Mirai Radio kali ini menyajikan tiga rute Heroine ‘biasa’ dan satu Heroine spesial. Dari sisi Heroine biasa, ada Yamanashi Mizuki, Kosumo Akina, dan Azamino Tsubaki.

Kalau teman-teman, memilih Mizuki tentu adik kesayangan akan selalu di sisi teman-teman. Guyonan kotor nan menggelitik, tidak akan pernah membuat bosan. Namun, Mizuki sangat sayang dengan kakaknya, Sora meski bukan kandung. Sayang sekali, melebihi siapapun. Jangan salah paham dengan amarahnya, meski sering bercanda.

Mainannnya, Chankon-kun. Bukan Chinko, lo ya.

Sedangkan, Akina adalah gadis cantik, tetek gede, jago ngomong, terkenal gara-gara jadi penjaga kafe di kampus. Akina adalah pendengar pertama acara radio buatan sora, karena dia juga yang pertama menerima radio buatan Sora. Awalnya sih, agak ogah-ogahan dengan cowok seperti Sora, tapi ternyata manjanya luar biasa. Dan jiwa keibuannya tinggi sekali.

Tadi udah lihat, kan? Gede, kan?

Terakhir adalah Tsubaki. Professor berumur 30 tahunan yang jadi salah satu penemu Jinkobato. Sukanya ngerokok, jarang mandi. Apanya yang bagus dong? Menjalin hubungan dengan perempuan dewasa rasanya memang sedikit berbeda. Namun, jangan lupa bagaimana pun bentuknya, Tsubaki tetaplah perempuan, yang punya segudang cerita untuk kita cari tahu.

Profesor Tsubaki. Sudah tidak muda, tapi tetap menggoda.

Sedangkan, dari Heroine spesial, ada Hazuki Kaguya, rahasia utama dari keseluruhan cerita Visual Novel ini. Hazuki Kaguya adalah anak dari profesor Hazuki yang bersama Azamino Tsubaki mengembangkan Jinkobato. Pertemuan Sora dan Kaguya menjadi salah satu kunci cara mengembalikan ikatan manusia, dengan langit. Karena dengan kematian Kaguya, maka dunia akan kembali normal, begitu katanya.

Apakah benar begitu? Tentu saja teman-teman akan dapat mengetahuinya jika memainkannya. Penulis tidak mau terlalu jauh membahas bagian ini.

Hidup itu hak semua orang, begitu juga kebahagiaan

Secara tema, Mirai Radio to Jinkobato sangatlah inovatif. Laplacian memang begitu. Namun, di Visual Novel kali ini, tema dan latar yang dibawa terlalu inovatif, sehingga saking modernnya ikatan antara Sora dan para Heroine jadi kalah inovatif. Jadinya, ya biasa-biasa aja. Terutama dari sisi Heroine biasa. Kasihan aja.

Meski begitu, kata Mirai, ‘masa depan’ yang tersemat dalam judul Visual Novel ini, bagi penulis bukanlah abal-abal. Ketika Sora kehilangan salah satu masa depannya, dia masih memiliki masa depan yang sama-sama baru, dan berharga. Dalam bagian akhir, memang dijelaskan bahwa masa depan tidak hanya satu. Kehilangan ‘dia’ pada saat itu, tidak berarti ikut menghilangkan hak untuk Sora mendapatkan kebahagiaannya.

Sama seperti Sora, teman-teman mungkin juga memiliki kesempatan yang sama. Memang, menginginkan suatu yang kita hargai, cintai untuk selalu bersama adalah hal yang wajar. Selain itu, mungkin saja waktu tersebut adalah waktu yang paling indah yang kita miliki. Namun, jika ada masa depan yang lebih cerah, bagaimana?

Sayangnya kita tidak memiliki teknologi dan pengetahuan seperti dunia di mana Sora berada. Karena itu, apa yang teman-teman miliki saat ini, bisa saja jadi kebahagian yang pas bagi teman-teman.

Categories: Pojok Visual Novel

Robet Fujita

Penggemar musik jejepangan metal, hard rock, hingga jadul. Suka menulis, dan menyibukkan diri sendiri.

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *