Ulasan Flowers -Le Volume sur Hiver-, Kekuatan Literatur dalam Sosok Shirahane Suo

Published by Robet Fujita on

Dirilis pada September 2017 lalu, serial Flowers merupakan karya yang cukup menguras waktu Innocent Grey sebagai pengembang yang terkenal dengan Visual Novel misteri, Kara no Shoujo. Meski memiliki jejak-jejak misteri yang sama, serial Flowers memiliki konsep yang berbeda dari karya-karya Innocent Grey sebelumnya, yaitu Yuri, dan All-ages. Cukup sulit untuk menarik perhatian pemain pada umumnya untuk menyukai serial ini. Apalagi, Flowers sebenarnya memiliki cerita yang cukup sederhana.

“Cerita tentang perkembangan karakter Suo dan gadis-gadis di sekitarnya, dalam persahabatan, dan misteri kecil di sebuah katolik khusus perempuan.”

Tidak ada pembunuhan. Tidak ada NTR, tidak ada romansa yang menggebu-gebu. Semuanya dibungkus dengan gaya yang kalem, berpusat pada Shirahane Suo, dan teman-temannya selama satu tahun, atau lebih tepatnya dalam empat musim. Setiap musim punya cerita dan gaya sendiri, dan cerita tersebut (sekali lagi) dapat teman-teman temukan dalam Pojok Visual Novel di laman HERO Soft.

Di musim dingin, Pekerjaan sebagai Ketua Nicea dimulai

Ada berbagai alasan yang membuat sosok pendiam, dan jarang memiliki teman seperti Suo ini mau repot-repot mengincar posisi setinggi itu di sekolahnya. Namun, yang menjadi alasan utama, ya tentu saja mencari Kousaka Mayuri, Amitie, teman sekamarnya. Kekecewaan, dan rasa penasaran terhadap ‘hilangnya’ Mayuri secara mendadak jadi pemicu Suo untuk mengincar posisi tertinggi di antara siswa-siswa yang lain, lengkap dengan berbagai tanggung jawabnya.

© 2017 Innocent Grey/Gungnir. Hak Cipta Dilindungi

Untung saja, Amitie Suo satunya lagi, Hanabishi Rikka dengan ikhlas mau membantunya. Meski, mungkin saja Rikka tahu tujuan asli Suo menjadi ketua Nicea adalah untuk mencari Mayuri yang secara tidak langsung adalah rivalnya.

Dengan menjadi ketua Nicea, Suo mendapat jalur khusus untuk mengetahui berbagai hal yang selama ini mungkin saja disembunyikan oleh pihak sekolah tentang berbagai kejadian misterius di sekolah, dimana hal tersebut akan menjadi kunci untuk menemukan keberadaan Mayuri. Berbagai rintangan, dan teka-teki Suo harus pecahkan hanya demi Mayuri. Bahkan, rekan yang Suo percayai selama ini pun berbalik menghalangi jalannya.

Baik, penulis tidak akan cerita lebih jauh tentang bagaimana cerita Flowers musim dingin kali ini. Bagi penulis cerita tentang persahabatan antara perempuan ‘berkelas’ lengkap dengan topik pembicaraan, serta karakternya yang begitu dalam sangat memuaskan hati.

Besarnya peran litetratur dalam sosok Shirahane Suo

Kembali mengenai teka-teki dan misteri yang ditemui ketika ingin mengambil kembali Mayuri. Dari awal seri, Shirahane Suo adalah seorang kutu buku. Memang teman-temannya juga suka membaca, tetapi tidak ada yang lebih demen buku daripada Suo di Visual Novel ini. Karena faktor itulah Suo juga menjadi penjaga perpustakaan. Hobinya menjadi lebih menarik, ketika rekan kutu bukunya, Yaegaki Erika juga ikut menemani perjuangan Suo untuk mencari Mayuri.

Meskipun di serial sebelumnya, banyak literatur barat dijadikan bahan untuk menciptakan Tujuh Misteri Sekolah, di serial kali ini, berbagai literatur baik karya sastra hingga ayat alkitab, Mazmur 23, menjadi pondasi dasar untuk memecahkan misteri ketujuh dari Tujuh Misteri Sekolah, Agape no Tarpa.

Melihat berbagai literatur yang muncul dalam serial kali ini membuat penulis tersadar kembali, bahwa saat ini banyak orang, terutama warganet yang kekurangan bahan literatur yang disajikan begitu mendalam. Baik itu sastra maupun sains fiksi. Hal tersebut, secara tidak langsung, membuat orang-orang, terutama anak muda agak kesulitan untuk memahami suatu masalah, kejadian yang terjadi di sekitar mereka secara kritis, dan mendalam. Bahkan, terkadang tidak mau diajak untuk lebih berpikir lebih luas. Bukan berarti tidak ada literatur yang ‘bagus’, dan kritis. Selain itu, suka atau tidaknya seseorang terhadap suatu literatur adalah hak setiap orang.

Namun, dengan menambah literatur yang dikonsumsi akan membuat cara pikir, dan cara pandang seseorang menjadi lebih lebar, dan luas ketika menghadapi kejadian maupun masalah di lingkugan masing-masing. Selama yang dikonsumsi bukanlah narasi-narasi yang menyesatkan.

Literatur adalah karya manusia yang mencerminkan pola pikir, cara pandang, pendapat, hingga emosi yang dihadapi dalam suatu waktu. Dengan memahami karya tersebut dengan baik, tentu akan membuat yang menikmatinya mendapatkan sebuah pengalaman, meski terkadang tidak mengalaminya secara langsung. Bahkan, bisa jadi sebuah refleksi diri karena sebelumnya pernah mengalami hal yang sama.

Butuh cara pandang yang luas dan cerdas untuk memecahkan misteri terakhir.

© 2017 Innocent Grey/Gungnir. Hak Cipta Dilindungi

Seperti layaknya tokoh Shirahane Suo dalam Flowers, dia memiliki berbagai cara pandang yang berbeda dalam menghadapi suatu hal. Dibantu pengetahuan yang dia miliki, dan teman-temannya, Suo mampu membuatnya percaya diri untuk menghadapi berbagai halangan di depannya.

© 2017 Innocent Grey/Gungnir. Hak Cipta Dilindungi

Serial Flowers sendiri merupakan literatur yang layak dikonsumsi

Kalem, sederhana, namun indah bagaikan bunga. Meski disebut sebagai proyek iseng, Flowers menjadi sebuah karya yang mampu menggambarkan perkembangan karakter Suo selama empat musim. Mulai dari rasa cemas menemui teman-teman baru, menemukan cinta, hingga kembali terikat dalam satu kesatuan bersama Amitie tercintanya. Cerita yang Kalem, sederhana, namun tumbuh dengan indah, bagaikan bunga.

© 2017 Innocent Grey/Gungnir. Hak Cipta Dilindungi

Artikel mengenai serial Flowers dapat temukan di artikel HERO Soft berikut ini:

Video Pembuka

Categories: Pojok Visual Novel

Robet Fujita

Penggemar musik jejepangan metal, hard rock, hingga jadul. Suka menulis, dan menyibukkan diri sendiri.

0 Comments

Komentar di sini

%d bloggers like this: